Ketika Kita Berusaha Mengetahui Diri, dan Tetap Tidak Bebas

Ada beberapa orang yang menghabiskan sekian lama untuk memahami dirinya sendiri. Membaca pola, mengenali luka, mencari akar dari setiap reaksi, berdamai dengan sisi-sisi dirinya yang selama ini disembunyikan.

Mereka tahu apa yang membuat mereka terpicu, dari mana kemarahan mereka berasal, mengapa mereka takut ditinggalkan, mengapa mereka membutuhkan pengakuan. Mereka tahu nama-nama dari hampir semua hal yang terjadi di dalam dirinya.

Tapi entah kenapa, mereka masih belum merasa bebas.

Aku pernah mengira bahwa semakin kita mengenal diri sendiri, semakin mudah hidup dijalani. Mungkin juga memang begitu sebenarnya. Self-awareness adalah sesuatu yang berharga. Kita perlu melihat apa yang selama ini kita hindari, perlu mengenali pola yang berulang, perlu berani masuk ke ruang-ruang dalam diri yang selama ini kita kunci, atau simply kita abaikan.

Jung, misalnya, mengajak kita melihat shadow, bagian bagian diri yang tidak ingin kita akui sebagai bagian dari kita. Bukan untuk membenci bagian itu, tetapi justru untuk mengenalinya, agar ia tidak diam-diam mengendalikan kita dari tempat yang tidak kita sadari. Dan mungkin memang ada sesuatu yang menyembuhkan ketika kita akhirnya berani menyalakan lampu di ruangan yang selama ini gelap.

Tapi lalu aku penasaran : bagaimana kalau menyalakan lampu bukan akhir dari perjalanan? lalu apakah setiap ruangan yang sudah kita temukan harus terus kita jelajahi? apa nggak capek itu?

Bagaimana kalau setelah kita melihat semuanya dengan jelas, kita masih bisa saja stuck di dalam ruangan itu?

Kita bisa tahu bahwa kita sedang burnout, tahu bahwa kita sedang mencari validasi, tahu bahwa kita sedang bereaksi dari luka lama, tahu bahwa rasa tidak berguna yang sedang muncul itu bukan fakta, tahu bahwa pikiran kita sedang membuat cerita yang mungkin tidak benar, kita bisa menjelaskan semuanya dengan sangat baik bahkan kepada orang lain. Tapi tetap saja, kita masih bisa menderita.

Di situlah aku mulai melihat perbedaan kecil antara memahami diri dan menjadi bebas dari diri.

Yang pertama membutuhkan kesadaran. Yang kedua mungkin membutuhkan sesuatu yang lebih sulit: ketidakmelekatan.

Dalam Tasawuf dan ajaran jawa, ada sesuatu yang selalu membuatku tertarik pada gagasan tentang lapisan lapisan nafs. Bukan karena diri harus dibenci, bukan karena keinginan harus dimatikan. Tetapi karena ada bagian dari diri yang begitu mudah kita anggap sebagai “aku”.

Aku marah, maka aku adalah kemarahanku. Aku gagal, maka aku adalah kegagalan. Aku merasa tidak berguna, maka aku memang tidak berguna. Aku terluka, maka inilah siapa aku.

Padahal mungkin tidak sesederhana itu. Mungkin saja ada perasaan yang sedang lewat, ada pikiran yang sedang muncul, ada luka yang sedang berbicara, dan ada diri sendiri yang sedang menyaksikannya.

Perbedaannya kecil, tapi mungkin di situlah ruang kebebasan mulai muncul.

Dalam ajaran Jawa, aku teringat pada kata yang sederhana: eling.

Mengingat, sadar. Kembali ingat pada sesuatu yang lebih besar daripada riuh dan chaos yang sedang terjadi di dalam diri.

Bukan berarti semua persoalan selesai, bukan berarti kita tiba-tiba menjadi tenang, hanya sebuah jeda kecil untuk mengingat: aku bukan semua yang sedang terjadi di dalam diriku.

Dan mungkin itu sebabnya aku sedikit berhati-hati dengan segala sesuatu yang menjadikan “mengenal diri” sebagai tujuan akhir. Karena kita bisa mengubah healing menjadi sebuah project.

Membaca lebih banyak, merenung lebih dalam, mengurai lebih jauh, menemukan shadow berikutnya, menemukan luka berikutnya, menemukan bagian diri berikutnya yang harus diperbaiki. Sampai tanpa sadar, kita menghabiskan seluruh hidup memeriksa diri sendiri.

Seperti orang yang lagi bercermin, memperbaiki satu minor detail, lalu menemukan detail lain yang perlu diperbaiki. Rambut, wajah, kerutan, ekspresi. Satu kekurangan selesai, muncul kekurangan lain. Cermin itu tidak pernah mengatakan cukup.

Dan mungkin saja masalahnya bukan pada cerminnya sebenarnya. Mungkin karena kita lupa bahwa hidup tidak terjadi di dalam cermin.

Ada sebuah ironi yang agak pahit di sini. Kita belajar mengenali diri supaya bisa hidup lebih utuh. Tapi kalau tidak hati-hati, kita justru bisa menjadi semakin sibuk dengan diri sendiri.

Mengapa aku begini? Mengapa aku merasa seperti ini? Apa yang sedang terjadi di dalam diriku? Apa arti perasaan ini? Apa yang sebenarnya aku butuhkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting sebenarnya, tapi hanya sampai pada titik tertentu. Setelah itu, mungkin ada pertanyaan yang lebih sederhana: Sudah terjawab lho ini. Sekarang mau hidup seperti apa?

Bukan berarti berhenti introspeksi. Bukan berarti menolak psikologi. Bukan berarti shadow work tidak berguna. Aku hanya mulai terpikir bahwa mungkin ada titik ketika memahami diri sudah sampai pada titik cukup.

Karena tidak semua hal yang kita pahami harus terus kita analisis. Tidak semua luka harus terus dibuka dan diproses untuk memastikan bahwa kita benar-benar sudah sembuh. Tidak setiap pikiran harus dipercaya. Tidak setiap emosi membutuhkan jawaban. Dan tidak setiap bagian dari diri kita harus diberi panggung.

Mungkin ada saatnya kita hanya perlu membiarkan sesuatu lewat. Tanpa menjadikannya identitas, tanpa menjadikannya cerita, tanpa menjadikannya proyek baru untuk diselesaikan.

Mungkin kebebasan bukan ketika kita akhirnya memahami seluruh isi diri. Mungkin kebebasan justru mulai muncul ketika kita sadar bahwa aku bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam diriku, tanpa harus menjadi semua yang sedang terjadi di sana. (Mungkin ini yang disebut metacognition, sepertinya)

Aku bisa merasa tidak berguna, tanpa harus menyimpulkan bahwa hidupku tidak berguna. Aku bisa marah, tanpa harus menjadi personifikasi dari kemarahanku. Aku bisa terluka, tanpa harus membangun rumah dan berlama lama di dalam luka itu. Aku bisa mengenali shadow ku, tanpa harus terus menatapnya.

Karena pada akhirnya, mungkin saja kita tidak dilahirkan untuk terus-menerus memahami diri. Kita juga harus beraktivitas harian, makan, tertawa, berjalan, mencintai, membuat kesalahan, menyeduh kopi, menyapa seseorang, sungazing, menjalani hari yang sama sekali tidak membutuhkan penjelasan psikologis.

Just alive, as simple as that.

Dan mungkin, setelah sekian lama mencoba mengenali setiap sudut dari diri sendiri, ada satu hal yang paling sulit untuk dipelajari : kapan harus berhenti melihat ke dalam.

Karena mungkin ada satu bentuk keterikatan yang sangat halus. Bukan keterikatan pada seseorang, bukan pada benda, bukan pada masa lalu. Tetapi pada kebutuhan untuk terus memahami siapa diri kita sebenarnya.

Dan mungkin, selama kita masih sibuk mencari jawabannya, kita belum menyadari bahwa hidup sebenarnya sudah dan masih berjalan di luar diri. Tanpa menunggu kita selesai memahami diri.

originally published at https://medium.com/@alfasukarno/ketika-kita-berusaha-mengetahui-diri-dan-tetap-tidak-bebas-580d7c4dfb2c