Yang tidak bisa terlihat

Beberapa saat lalu, dalam sebuah percakapan yang sebenarnya biasa terjadi, topiknya berbelok ke kesehatan.
Sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Obrolan tentang kondisi kesehatan, pola tidur, tekanan pekerjaan, dan hal-hal yang biasanya muncul ketika usia tidak lagi muda dan tubuh mulai meminta diperhatikan.
Di tengah percakapan itu, ada satu cerita yang membuatku diam lebih lama dari yang kukira.
Tentang seorang teman yang baru menyadari betapa lelah tubuhnya setelah hidupnya mulai membaik. Bukan saat masalah datang. Bukan saat kecemasan sedang memuncak. Bukan saat hari-harinya dipenuhi usaha untuk sekadar bertahan. Justru setelah semuanya mulai tenang.
Selama beberapa lama, temanku ini menjalani masa yang tidak mudah. Ada depresi, kecemasan, dan berbagai pergulatan yang mungkin tidak banyak diketahui orang lain. Dari luar, hidup tetap berjalan seperti biasa. Pekerjaan dilakukan. Kewajiban diselesaikan. Hari berganti hari.
Dan seperti banyak orang lainnya, ia mengira tubuhnya baik-baik saja.
Sampai suatu hari dia menyadari, ada beberapa hal yang ternyata tidak sebaik yang dibayangkan.
Saat mendengar cerita itu, aku tidak langsung memikirkan dunia medis. Aku justru teringat pada satu ajaran Jawa yang pernah kudengar bertahun-tahun lalu yaitu Ngelmu Kyai Petruk yang salah satu pituturnya berbunyi:
“Susah ra iso disawang, bisane mung dirasake dhewe.”
Kesusahan tidak bisa dilihat. Hanya bisa dirasakan sendiri.
Dulu aku memahami kalimat itu secara sederhana. Bahwa penderitaan seseorang sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Semakin bertambah usia, aku merasa maknanya lebih luas dari itu.
Kadang penderitaan bahkan tidak terlihat oleh diri kita sendiri. Kita terlalu sibuk menjalaninya untuk benar-benar menyadarinya. Kita terlalu sibuk bertahan hidup untuk sempat mendengarkan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri. Baru ketika keadaan mulai tenang, kita menemukan jejak-jejak yang selama ini tertinggal.
Aku teringat pada sebuah gagasan dalam psikologi modern yang juga dibahas oleh temanku: bahwa tubuh sering kali menyimpan pengalaman yang belum sempat diproses oleh pikiran.
Saat seseorang berada dalam tekanan yang panjang, fokus utamanya biasanya bukan memahami apa yang sedang dirasakan. Fokus utamanya adalah bertahan.
Melewati hari ini. Menyelesaikan pekerjaan berikutnya. Bangun esok pagi. Menjawab whatsapp atau email yang tertunda. Membayar tagihan. Menjalani hidup.
Dalam keadaan seperti itu, tubuh sering kali bekerja diam-diam. Ia menanggung sebagian beban yang tidak sempat disadari. Dalam otot bahu dan rahang dan otot lain yang terus menegang. Dalam tidur yang tidak pernah benar-benar deep sleep. Dalam napas yang lebih pendek dari biasanya. Dalam kelelahan yang terasa wajar hanya karena sudah terlalu lama menemani. Mungkin tubuh memiliki caranya sendiri untuk berkata, “Fokus bertahan dulu. When everything settled later, kita bahas lagi”.


Dan mungkin itulah yang terjadi pada banyak orang. Kerusakan tidak muncul ketika badai berakhir. Kerusakan sudah ada sejak lama. Kita hanya baru memiliki ruang untuk melihatnya setelah badai berlalu.
Semakin kupikirkan, semakin aku merasa ada sesuatu yang menarik dari Ngelmu Kyai Petruk. Ada bagian yang sering terdengar terlalu sederhana.
Yen ngelih mangana. Kalau lapar, makan.
Yen ngelak ngombea. Kalau haus, minum.
Yen kesel ngasoa. Kalau lelah, beristirahat.
Yen ngantuk turua. Kalau mengantuk, tidur.
Bertahun-tahun aku menganggapnya sekadar nasihat hidup sehat. Kini aku tidak lagi yakin. Mungkin ajaran itu sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar. Tentang kemampuan untuk mendengar tubuh sendiri.
Karena ternyata banyak orang yang sudah lupa bagaimana rasanya lelah. Banyak yang tidak menyadari dirinya cemas sampai tubuhnya mulai protes. Banyak yang mengira dirinya baik-baik saja karena masih bisa berfungsi. Padahal berfungsi dan baik-baik saja bukanlah hal yang sama.
Kita hidup di zaman yang menghargai ketahanan. Tetapi jarang mengajarkan kepekaan. Kita diajarkan untuk terus berjalan. Namun tidak selalu diajarkan untuk bertanya apakah tubuh kita masih sanggup mengikuti langkah itu.
Mungkin karena itu cerita temanku yang kubaca itu terus teringat sampai sekarang.
Bukan karena kondisi kesehatannya. Melainkan karena ia mengingatkanku pada sesuatu yang mudah dilupakan, bahkan olehku sendiri.
Bahwa tubuh bukan sekadar kendaraan yang membawa kita dari satu hari ke hari berikutnya. Ia adalah saksi. Ia mencatat jam-jam panjang ketika kita tidak bisa tidur. Ia mengingat hari-hari ketika kecemasan memenuhi kepala. Ia menyimpan ketegangan yang tidak pernah sempat diucapkan. Dan sering kali, ia tetap setia bekerja bahkan ketika kita terlalu sibuk untuk mendengarkannya.
Semakin bertambah usia, aku merasa Ngelmu Kyai Petruk bukanlah ajaran tentang menjadi kuat. Ia adalah ajaran tentang menjadi peka. Peka terhadap lapar. Peka terhadap lelah. Peka terhadap sedih. Peka terhadap diri sendiri. Karena mungkin tubuh tidak pernah benar-benar berbohong.
Ia hanya berbicara dengan bahasa yang sering kita lupa cara mendengarnya.
Dan seperti kata kyai Petruk, ada hal-hal yang memang tidak bisa disawang. Hanya bisa dirasakan.

TAGS

CATEGORIES

Uncategorized

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *